⚠ Berikut beberapa kesalahan yang sering dilakukan oleh banyak orang, padahal tidak ada contoh dan dalil yang shahih dari Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam dan para shahabat ridwanullah ‘alaihim ‘ajmain, antara lain :

➡1. Menentukan Awal Ramadhan Dengan Perhitungan Hisab.

Cara seperti itu merupakan bid’ah dalam agama. [Lihat Majmu Fatawa XXV/179-183]

➡2. Keramas (Mandi) Jelang Ramadhan
➡3. Ramadhan Dibagi Tiga

⚠ Kesalahan ini timbul karena hadits dhaif [Lihat Adh-Dhaifah 4/70 (1569)]

➡4. Ziarah Kubur Menjelang Ramadhan & Sesudahnya

♨ Berziarah kubur memang dianjurkan namun mengkhususkannya pada waktu-waktu tertentu menyalahi syari’at.

Tidaklah tepat keyakinan bahwa menjelang bulan Ramadhan adalah waktu utama untuk menziarahi kubur orang tua atau kerabat (yang dikenal dengan “nyadran”).  Ini merupakan kekeliruan karena tidak ada dasar dari ajaran Islam yang menuntunkan hal ini.
Menentukan bulan tertentu untuk ziarah kubur membutuhkan dalil.

➡5. Bermaaf-maafan menjelang Ramadhan
➡6. Mendahului Ramadhan dengan Berpuasa Satu atau Dua Hari Sebelumnya

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَتَقَدَّمَنَّ أَحَدٌ الشَّهْرَ بِيَوْمٍ وَلاَ يَوْمَيْنِ إِلاَّ أَحَدٌ كَانَ يَصُومُ صِيَامًا قَبْلَهُ فَلْيَصُمْهُ

“Janganlah kalian mendahului Ramadhan dengan berpuasa satu atau dua hari sebelumnya, kecuali bagi seseorang yang terbiasa mengerjakan puasa pada hari tersebut maka puasalah.” (HR. Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih wa Dho’if Sunan Nasa’i)

✅Pada hari tersebut juga dilarang untuk berpuasa karena hari tersebut adalah hari yang meragukan. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَامَ الْيَوْمَ الَّذِي يُشَكُّ فِيهِ فَقَدْ عَصَى أَبَا الْقَاسِمِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Barangsiapa berpuasa pada hari yang diragukan maka dia telah mendurhakai Abul Qasim (yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, pen).” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, dikatakan shahih oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih wa Dho’if Sunan Tirmidzi)

➡7. Melafalkan Niat “Nawaitu Shauma Ghodin…”

🚫 Tidak ada satupun riwayat dari Nabi shallallahu’alaihi wasallam, shahabat, maupun tabi’in yang menyebutkan bahwa mereka melafadzkan niat puasa seperti ini.

➡8. Imsak Di waktu Sahur

⏰ Allah berfirman dalam al-qur’an, membolehkan kita makan minum sampai datang waktu shubuh (adzan) Lihat Al-Baqarah 187, oleh karena itu imsak ini yang +/- 10menit telah mengharamkan apa yang dihalalkan Allah.

➡9. Sahur di tengah malam

Hal ini tentunya bertentangan dengan sunnah Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau mengakhirkan waktu sahurnya hingga mendekati adzan shalat Shubuh.

➡10. Do’a Ketika Berbuka “Allahumma Laka Shumtu wa Bika Aamantu…”

✅Ada beberapa riwayat yang membicarakan do’a ketika berbuka semacam ini. Di antaranya adalah dalam Sunan Abu Daud no. 2357, Ibnus Sunni dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah no. 481 dan no. 482. Namun hadits-hadits yang membicarakan amalan ini adalah hadits-hadits yang lemah. Di antara hadits tersebut ada yang mursal yang dinilai lemah oleh para ulama pakar hadits. Juga ada perowi yang meriwayatkan hadits tersebut yang dinilai lemah dan pendusta (Lihat Dho’if Abu Daud no. 2011 dan catatan kaki Al Adzkar yang ditakhrij oleh ‘Ishomuddin Ash Shobaabtiy).

🔖 Adapun do’a yang dianjurkan ketika berbuka adalah,

ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ

“Dzahabazh zhoma-u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insya Allah (artinya: Rasa haus telah hilang dan urat-urat telah basah, dan pahala telah ditetapkan insya Allah)” (HR. Abu Daud. Dikatakan hasan oleh Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if Sunan Abi Daud)

➡11. Meninggalkan Berkumur-kumur dan Meng­hirup Air ketika Berwudhu.

✅Padahal hal tersebut merupakan perkara yang disunnahkan dalam hal berwudhu meskipun sedang puasa menurut pandangan syariat Islam sebagaimana yang telah diterangkan dalam banyak hadits.

➡12. Mengakhirkan berbuka sampai munculnya bintang-bintang.

✅Padahal tuntunan Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam sangatlah jelas akan kesunnahan mempercepat buka puasa bila masuknya waktu berbuka

➡13. Merasa batal puasa jika tidak sengaja makan dan minum. Tidak ada perbedaan apakah makannya sedikit atau banyak.
➡14. Anggapan bahwa tidak boleh menelan ludah saat puasa.
➡15. Shaum Ramadhan tidak akan diterima sampai dikeluarkan zakat fithri

⛔ Datang dari hadits dhaif, lihat Adh-Dhaifah 1/117 no. 43

➡16. Menganggap haram berhubungan suami istri pada malam hari ramadhan.
➡17. Seorang belum mandi junub setelah waktu shubuh merasa tidak sah puasanya.

➡18. Seorang wanita yang sudah berhenti darah nifasnya sebelum 40 hari dia tidak shalat dan tidak puasa, yang benar wajib shalat dan puasa jika telah berhenti nifasnya meskipun belum 40 hari.
➡19. Keyakinan sebagian orang bahwa adzab kubur dihentikan selama Ramadhan
➡20. Anggapan Bahwa Tunggakan Ramadhan Menjadi Dua Kali Lipat Bila Diundur Hingga Ramadhan Berikutnya.
➡21. Menghabiskan Waktu dengan Perkara Yang Sia-Sia saat Ramadhan.

Allahu’alam

✒ Penyusun Abu Syamil Humaidy حفظه الله تعالى
🔖 https://goo.gl/el
RISALAH RAMADHAN 🌕
🔄 Join Channel @RisalahRamadhan di Telegram

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s