Kisah Ikrimah bin Abu Jahl adalah kisah pertobatan dan pengorbanan yang luarbiasa.

Kisah Ikrimah menunjukkan bahwa pintu tobat terbuka lebar bagi siapa saja yang mau memasukinya dengan bersungguh-sungguh tidak peduli sebesar apapun dosa yang pernah dia perbuat. Selain itu, sebagai mantan musuh besar Rasulullah, beliau bahkan berhasil menunjukkan akhlak tinggi seorang muslim untuk tidak hanya mementingkan kepentingan diri sendiri bahkan di saat menyongsong sakaratul maut.

Ikrimah bin Abu Jahl adalah putra Abu Jahl, yang bersama ayahnya pernah menjadi musuh Islam yang paling keras dan kejam. Bahkan tercatat, orang yang mati syahid pertama kali, yaitu Ummu Ammar (Sumayyah binti Khuyath), gugur dalam penistaan dan penganiyaan Abu Jahl.

Setelah Abu Jahl terbunuh dalam perang Badr, dengan terbakar dendam Ikrimah pun tampil menggantikan ayahnya.  Sebagai anak muda yang mahir bertarung dengan pedang dan tangkas dalam berkuda, Ikrimah memainkan peranan penting bersama Khalid bin Walid untuk membalikkan keadaan pasukan kafir yang sudah hampir dihancurkan oleh pasukan muslimin menjadi dapat memenangkan perang Uhud.

Ketika pasukan besar kaum muslimin pada 18 Ramadhan 8H memasuki Makkah, Ikrimah dan kawan-kawannya adalah satu-satunya kelompok yang memberikan perlawanan bersenjata.  Walau perlawanan itu berlangsung sangat singkat karena di tempat itu Khalid bin Walid yang  memimpin pasukan.

Ketika Makkah akhirnya takluk, Ikrimah melarikan diri karena Rasulullah memberikan jaminan keamanan terhadap seluruh penduduk, kecuali enam orang yang salah satunya adalah Ikrimah.  Tapi Ikrimah kembali lagi setelah pelayarannya diterpa badai dan menurut riwayat hadits shahih dari Nasa’i (lihat juga Ash-Shohihah : 1723), Ikrimah berjanji jika selamat dari badai itu dia akan kembali ke Makkah, menerima Islam dan memohon pengampunan dari Rasulullah.

Ternyata Rasulullah menerima permohonan ampun Ikrimah, maka sejak saat itu Ikrimah bukan saja menjadi orang yang selalu giat beribadah tapi juga giat terlibat dalam berbagai kegiatan menyebarkan syi’ar Islam.  Ikrimah sering terlihat berjalan-jalan mendekap Al Qur’an dan dengan berlinang air mata menunjukkan kepada orang-orang,”Ini kitab dari Tuhanku, ini kitab dari Tuhanku”.  Keikutsertaan Ikrimah dalam memperjuangkan kejayaan Islam bahkan tidak berkurang sedikitpun walaupun harus menghadapi tantangan hingga berwujud peperangan.

Puncaknya adalah ketika beliau turut serta dalam pasukan yang dipimpin Khalid bin Walid untuk melindungi kaum muslimin di Syam dari tindakan pemulihan kekuasaan yang dilakukan oleh Bizantium.  Setelah melewati serangkaian pertempuran kecil, pasukan ini akhirnya berbenturan dengan pasukan besar Bizantium di lembah sungai Yarmuk.  Pasukan Khalid bin Walid yang berjumlah sekitar 40.000 orang harus melawan pasukan Bizantium yang berjumlah lebih dari 100.000 orang.  Tapi kepiawaian Khalid sebagai panglima kembali terbukti, pertempuran ini berakhir dengan kemenangan gemilang kaum muslimin, sehingga berakhirlah perang dengan Bizantium sekaligus berakhir pula kekuasaan Bizantium di Timur Tengah.

Al Waqidi dan ahli sejarah lainnya mengisahkan bahwa Ikrimah terluka parah dalam peperangan ini dan ketika dalam keadaan kritis, Ikrimah meminta air kepada sahabat yang bertugas membawa bekal air. Sahabat itu pun menghampiri Ikrimah, belum sampai gelas berisi air itu ke mulut Ikrimah, beliau mendengar orang lain, yaitu pamannya Al Harits bin Hisyam yang juga terluka parah, juga meminta air. Ikrimah lalu meminta si pembawa air untuk memberikan air itu kepada Al Harits terlebih dahulu, si pembawa airpun pergi meninggalkan Ikrimah dan berlari menuju Al Harits. Begitu sampai di tempat Al Harits terbaring, belum sampai gelas berisi air sampai ke mulut Al Harits, terdengar lagi suara meminta air dari orang lain, kali ini dari Ayyasy bin Abi Rabi’ah (dalam riwayat lain Suhail bin ‘Amru) yang juga terluka parah. Al Harits pun meminta si pembawa air untuk melayani orang itu terlebih dahulu. Si pembawa air berlari meninggalkan Al Harits dan menuju tempat orang ketiga yang meminta air tersebut, sayangnya begitu tiba di tempat Ayyasy (atau Suhail), beliau telah syahid terlebih dahulu. Si pembawa airpun berlari kembali ke Al Harits, dan setibanya di sana, Al Harits pun telah syahid, lalu dia terus berlari menuju Ikrimah dan beliau pun telah syahid.

Ikrimah bin Abu Jahl putra musuh Allah yang sangat keras permusuhannya terhadap dakwah Rasulullah bukan saja telah bertobat tetapi juga telah meraih pahala tertinggi yaitu syahid di medan perang membela agama Allah. Bahkan di akhir hidupnya beliau masih menunjukkan akhlak utama seorang muslim yaitu mementingkan kemaslahatan bersama lebih tinggi daripada kemaslahatan pribadi.

Catatan : Kecuali kisah pengampunan Ikrimah yang diambil dari hadits An-Nasa’i sebagian besar isi kisah ini diambil dari buku-buku sejarah (tarikh) klasik dalam khazanah ilmu pengetahuan kaum Muslimin, seperti Tarikh At-Thabari, Futuh As Syams karya Al-Waqidi dan Tarikh al-Umam wa ar-Rusul karya Ibnu Hajar.  Semua itu bukan hadits sehingga tingkat kebenarannya bisa dipertanyakan (karena tidak dijaga sanad dan matannya dengan ketat seperti hadits), tapi sebagai sebuah kisah hikmah sangat layak untuk direnungi.

Advertisements

One thought on “Ikrimah bin Abu Jahl, Kisah Pertobatan Luarbiasa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s